Bertransportasi di Lampung (bagian 1)

Sudah lama saya ingin menulis tentang pengalaman bertransportasi di Lampung. Untuk bagian pertama ini, saya tulis rute transport dari bandara ke kota dulu ya. Mana tahu ada teman-teman yang mau main ke Lampung, tiket pesawat Jakarta-Lampung bisa diperoleh dari kisaran Rp 180.000-300.000 an kok, tergantung nasib baik. Waktu tempuhnya? 30 menit. Baru duduk, merem sebentar, langsung sampai. ๐Ÿ˜€

ย Dari taksi bandara ke bus trans

Trans Lampung, begitu tulisannya. Bus berwarna biru dengan tubuh yang masih mulus itu terparkir di lobi pintu kedatangan, membuka pintunya lebar-lebar untuk pulang bareng. Sesaat sebelum naik pesawat dari bandara Soekarno Hatta Jakarta, saya menyempatkan diri untuk mencari informasi tentang bus ini, yang katanya telah beroperasi dengan rute Bandara Raden Inten, Lampung โ€“ kota Bandar Lampung sejak beberapa bulan terakhir.

Dalam hati, saya senang akhirnya ada bus ini. Betapa tidak, jika dibandingkan dengan mobil carteran atau lazimnya disebut dengan โ€œtaksiโ€, sekali jalan dari bandara ke pusat kota, spesifiknya Tanjung Karang, tempat saya menetap, saya harus mengeluarkan uang minimal Rp 120.000 untuk jarak yang tidak sebegitu jauh. Kalau jalannya bertiga sih murah, lha kalau hanya sendiri? Bangkrut. Nominal ini bisa berbeda lagi dengan destinasi yang berbeda lho, tergantung dari jarak tempuhnya. Jadi untuk saya yang jarang bawa bawaan banyak (hanya printilan kecil-kecil saja yang banyak ;p) saya butuh alternatif selain taksi bandara. Dan supir pribadi, tentunya.

Sistem taksi bandara ini sebenarnya sudah mengalami perbaikan dari yang lalu-lalu. Mulai dari sistem rebutan penumpang, sistem nomor antrian (tiap supir memiliki nomor sesuai antrian, jadi semua supir dapat bagian), hingga sistem order satu pintu seperti sekarang ini pernah saya temui sepanjang 2 tahun terakhir. Bahkan, sistem yang terakhir sudah jauh berjalan dengan lebih rapi dan tertib. Menyenangkan! Tapi ya tetap, sekali jalan 120.000. Ngook.

Oleh karena itu, keberadaan Trans Lampung membuat saya cukup bahagia walaupun rutenya masih sangat terbatas, armadanya sedikit, dan jam operasionalnya hanya 3 jam sekali dengan jam operasional termalam (katanya sih) jam 9, yaitu jam pendaratan pesawat paling akhir. Yup, karena setelah itu, bandara akan tutup. Jadi bagi teman-teman yang sedang iseng mau piknik ke Lampung dan mencari tumpangan murah meriah dari Bandara ke pusat kota, opsi bus trans Lampung ini bisa dicatat sebagai salah satu langkah berhemat. Cukup sediakan uang 20.000 saja.

Ojek

Tentu saja, bus tidak bisa memberikan layanan antar door-to-door alias mendaratkan Anda di depan pintu tujuan akhir Anda seperti taksi. Anda butuh angkutan penghubung yang lain dan salah satu jawabannya adalah : ojek! Belum masuknya korporasi penyedia layanan ojek online membuat saya seringkali malas naik ojek di sini, terutama juga karena harus tawar-tawaran dengan tukang ojeknya. Bukannya saya tidak suka menawar, oh, saya suka sekali itu, hanya saja kalau yang dihadapi tukang ojek di sini, saya merasa sedang tawar-tawaran sama preman dan pasti kalah.

Tapi jangan khawatir, tiada ojek online, ojek telepon ada kok. Ada 2 penyedia yang saya tahu, yaitu Masojek dan Ojek_yay. Keduanya memiliki tariff dasar minimum perjalanan yang tidak terlalu berbeda, dengan tambahan per kilometernya sekitar 2.500-3.000 (bisa dicek langsung ke akun bersangkutan). Kemarin setelah turun dari bus, saya pakai jasa Masojek untuk mencapai tujuan akhir saya. Tarif dasarnya Rp 15.000 untuk 5 kilometer pertama, walaupun pada prakteknya perjalanan saya hanya 2 kilometer. Hahaha. Yaudah lah ya.

Pembicaraan yang saya ingat dengan tukang ojek saya waktu itu adalah ketika saya tanya ada jasa antar barang atau tidak untuk wilayah dalam kota. Kata bliau, โ€œBiasanya kami cek dulu mbak itu alamatnya. Soalnya kadang-kadang suka ada yang iseng atau ngantar barang yang bukan-bukan, atau dipanggil trus diambil motornya. Jadi kalau alamatnya meragukan, kami nggak ambil order itu.โ€

Saya hanya manggut-manggut. Bahkan di kotanya sendiri, para pencari rejeki halal ini masih juga dibayang-bayangi oknum kurang bijaksana macam yang disebutkan pak tukang ojek tadi. Kalau begini ceritanya, saya pikir layanan ojek online sebaiknya pikir masak-masak jika mau melebarkan sayap ke Lampung. Nah sementara untuk Anda yang mau berkunjung, cukuplah pakai ojek telepon tadi dulu, seperti saya. Aman, walau agak repot karena harus telepon ke pusat, dan pusat akan mencarikan armada ojek yang selo.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s