Bertransportasi di Lampung (bagian 2)

 Saya tidak melakukan sangat banyak perjalanan, tapi saya ada cerita sedikit tentang memilih kendaraan umum di Lampung.

 

Bus

Perjalanan yang paling sering saya lakukan adalah ke arah barat, sebut saja ke Jakarta. Armada bus favorit saya adalah Damri, dimana saya tinggal duduk manis dan bangun di subuh hari dengan melihat pemandangan gedung-gedung tinggi. Setiap harinya, bus Damri menyambangi 4 rute perjalanan ke arah barat yakni ke Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Bandung dengan jadwal berbeda (ada keberangkatan pagi dan malam, ada yang malam saja).

Ada 3 tingkatan kenyamanan bus yang bisa Anda pilih, yaitu Bisnis, Eksekutif, dan Royal. Perbedaannya hanya jumlah tempat duduk yang membuat Anda bisa lebih lega menikmati perjalanan 8 jam, selebihnya sama semua pakai pendingin dan ruang parkirnya di feri juga sama. Ohya, untuk rute ini, bus tidak berangkat dari Terminal Rajabasa, melainkan dari Stasiun Tanjung Karang.

Tarifnya tidak terlalu mahal, untuk ke Jakarta dengan destinasi Stasiun Gambir (pool Damri Jakarta) paling murah Rp 155.000 (bisnis), paling mahal Rp 235.000 (royal). Untuk ke tujuan lain harganya paling hanya terpaut 15-30 ribu untuk masing-masing kelas. Namun bagi Anda yang mau lebih hemat lagi, perjalanan ke barat bisa ditempuh secara mandiri dengan travel (40-50ribu), lanjut feri (15.000), dan bus AC macam Arimbi ke Kampung Rambutan (30.000).

Bus-bus tujuan luar kota mayoritas memiliki pool di daerah ByPass, tepatnya Jalan Soekarno Hatta, jalan utama bagi truk-truk tronton lintas Sumatra lewat.  Ada juga yang start dari Terminal Bus Rajabasa, terutama untuk bus-bus arah Palembang, Bengkulu, dll serta kota-kota sekitar Lampung seperti Metro, Tulang Bawang, Kotabumi, dsb. Dahulu kala, kawasan Rajabasa ini terkenal “angker”. Bukan karena hantu ya, tapi karena tingginya tingkat premanisme di sana. Dulu lho ya, dulu. Sekarang sih ya tetap angker kalau Anda mau ke sana di atas jam 7 malam. Selain sudah ga ada orang, ya mau ngapain coba?

Bus dalam kota? Ada Trans Lampung. Tarifnya tidak seperti di Jakarta yang flat 3.500 untuk sekali perjalanan tanpa keluar halte. Kalau di sini, ganti bus tanpa keluar halte, masih ada tarif tambahannya, nanti ada kondekturnya yang keliling. Anda juga bisa minta turun di mana saja, tidak harus di bus. Heran? Sama. Tapi itu dulu, 2 tahunan lalu. Entah kalau sekarang sistemnya sudah berubah.

Kereta

Tidak pusing melihat jadwal dan rute kereta di Lampung karena jalur rel nya hanya satu. Iya, satu. S-A-T-U. Rute yang dilayani adalah Bandar Lampung-Palembang, dengan beberapa pengembangan pemberhentian seperti Kotabumi dan Baturaja. Jam keberangkatan ada 2, yakni pagi dan malam hari dengan harga tiket pagi dan tiket malam yang cukup signifikan. Yang lucu dari kereta di sini, karena hanya ada satu jalur rel tadi, ketika di tengah jalan berpapasan dengan kereta batubara, kereta isi manusia harus mengalah.

Ngomong-ngomong, saya sendiri belum pernah naik kereta di sini. Hihi.

Angkutan umum dalam kota

Ada beberapa angkot beroperasi di pusat kota, di antaranya angkot ungu, coklat, putih, merah, ungu strip merah, hmm..apa lagi ya. Perbedaan warna menunjukkan rute perjalanan mereka, dan karena tidak ada stiker rute awal-rute akhir ditempel di bagian manapun di mobil tersebut, saya sarankan Anda rajin bertanya. Selain itu, kadang supir juga suka memotong rute, jadi sekali lagi, pastikan tujuan Anda sedari awal. Tarif jauh dekat katanya sih 4.000, tapi agak jauhan sedikit 5000, jauh dikit lagi 4000×2. Haha.

Travel

Di atas tadi sempat saya singgung mengenai travel yang bisa digunakan untuk mencapai Bakauheni jika Anda mau menuju Pulau Jawa. Travel bisa didatangi langsung di pool mereka, bisa juga dicegat di jalanan, tergantung destinasi Anda mau kemana. Jasa travel dadakan juga banyak, asal pas tawar menawarnya. Pokoknya kalau urusan travel, segalanya mungkin. Utamakan memilih supir yang memang sudah kenal daerah yang akan Anda tempuh, misalnya jika mau ke arah jalan lintas Sumatera. Buat apa? Ya supaya hafal medan dan aturan tak tertulis di jalan. Sesederhana itu.

Saya jadi ingat ada cerita menarik dari seorang teman. Teman ini sebenarnya tidak berniat menjajakan jasa travel, tapi waktu melintas dari Bandar Lampung ke arah Pelabuhan Bakauheni, melihat seseorang melambai-lambaikan tangan minta tumpangan, dia pun menepikan mobil. Lumayan lah kalau dapat “upah nebeng” ya kan.

“Mas mau ke Jakarta?” tanya teman saya basa basi begitu sudah di dalam mobil.

“Iya mas. Saya kerja di Jakarta, “jawab si penumpang tadi.

“Kerja apa mas?”

“Biasanya diminta ngeberesin sesuatu. Kadang-kadang ngeberesin orang juga. “

Sampai di sini saya bisa membayangkan teman saya menelan ludah dalam-dalam. Maksud kalimat terakhir apa ya?

Si Penumpang melanjutkan, “Lumayan mas upahnya bisa buat dibawa pulang. Kemarin anak saya minta supaya punya rumah, nggak ngontrak-ngontrak lagi.”

Singkat cerita, teman saya masih bisa cerita ini sama saya, artinya dia baik-baik saja. Cuma ya itu. Sepanjang sisa perjalanan, sepertinya dia banyak-banyak zikir. Lupakan “upah nebeng”, utamakan…err…keberlanjutan hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s