Belajar Cokelat di Negeri Seberang (bagian 1)

It’s not a first-day-school matter, it’s about a first-of-everything experience matter.

Begitu pula yang saya jalani 2 bulan terakhir ini. Mendapat kesempatan belajar tentang kakao dan cokelat selama 2 minggu di Belgia bulan Mei nanti menjadi hal yang setengah membangkitkan semangat, setengah memusingkan. Mulai dari visa hingga printilan saya susun sendiri secara detail, tanya kesana kemari sampai yang ditanya mungkin bosan dan jengkel. Haha.

Jadi kebetulan saya diberi kemudahan untuk dipilih menjadi salah satu peserta pelatihan cokelat di Belgia, di bawah kepengurusan Universitas Ghent dengan subsidi biaya pelatihan penuh (2500 euro). Biasanya, pelatihan ini menyediakan beasiswa penuh, termasuk di dalamya biaya pelatihan dan akomodasi selama pelatihan. Namun di tahun 2017 ini, pihak pemberi beasiswa (namanya VLIR-UOS) menghentikan kerjasama dengan pihak pusat pelatihannya (Ghent University). Oleh karena itu, walau dapat beasiswa pelatihan, akomodasi harus diupayakan sendiri oleh peserta atau cari sponsor pribadi. Saya sempat berpikir panjang, mendiskusikan tawaran ini dengan teman dan orangtua berikut juga atasan saya, yang akhirnya didapatkan kesimpulan saya bisa berangkat dengan dukungan tempat saya bekerja #peluksibos.

Disponsori tempat bekerja bukan berarti tinggal ongkang-ongkang terima tiket, menyiapkan baju, dan tinggal berangkat wuz wuz. Lalu? Ya gitu lah. Urus semuanya sendiri seakan-akan saya akan melakukan backpacking ke Eropa. Haha agak bego kalo diingat-ingat pada suatu akhir pekan, saya bengong begitu lama di depan komputer portabel saya, bingung harus memulai pengurusan perjalanan darimana. Dari tiket kah? Hotel? Tiket kereta? Sementara laporan-laporan pekerjaan melambai-lambai minta digarap.

Everybody must have their VERY first overseas trip, right? Dalam hal ini, kok ya kebetulan pertama kalinya langsung jauh banget. Duh dek. Diawali dengan kepengurusan yang terlihat ribet, namun setelah dijalani ternyata tidak ribet. Sungguh, pikiran kita sendiri yang menciptakan keribetan itu. Saya belajar banyak dari blog http://travelingprecils.blogspot.com/ milik mba Ade Kumalasari mengenai langkah-langkah menyiapkan perjalanan seru yang tidak terlalu irit tapi juga tidak berlebihan. Tambah lagi, mbak Ade ini kalau melakukan perjalanan hampir selalu dengan 2 anaknya. Jadi bisa dibayangkan kalau blio saja bisa dengan santai membuat persiapan perjalanan untuk beberapa orang dengan hemat dan cermat (bahkan menuliskannya), masa saya yang selo ini nggak bisa? #malahnjukkemaki.

Begitulah,saya ini belum pernah pergi kemana-mana. Maka bisa dibayangkan betapa udik saya mengurus perjalanan kali ini. Karena akan panjang, saya akan bagi tulisannya menjadi beberapa bagian sajalah.

Persiapan berangkat

Mengurus keberangkatan secara mandiri memang merepotkan, tapi kalo nggak repot kan nggak belajar. Cie. Saya tidak akan terlalu detail, karena seperti di tulisan sebelumnya yang saya bilang, supaya tidak menambah keribetan di pikiran Anda. Santai, selow, semua akan lancar pada waktunya.

  1. Mengurus visa
  • Per Juli 2016, kepengurusan visa Schengen (visa khusus daerah-daerah Eropa) secara resmi ditangani oleh VFS Global (http://www.vfsglobal.com/netherlands/indonesia/). Saat saya membuat visa di bulan Maret 2017, biaya kepengurusannya Rp 1.200.000 sudah mencakup biaya administrasi dan biaya visa. Bagi yang menginginkan visanya dikirim melalui kurir, ada tambahan Rp 50.000. Mereka pakai kurir Aramex.
  • Persyaratan visa standar saja, bisa dibaca melalui tautan yang saya bagi itu. Untuk penerbangan, kebetulan saya memang sudah beli (issued ticket). Tapi untuk tempat tinggal, bisa menggunakan booking.com yang langsung bisa dibatalkan tanpa pinalti apapun setelah dapat visa dan sebelum tenggat yang ditentukan (biasanya 1-2 minggu sebelum hari check in yang Anda masukkan waktu mendaftar). Tapi kalau sudah tahu mau tinggal dimana ya lebih baik lagi.
  • Bikin jadwal, dating di hari yang dijadwalkan. Pilih waktu paling pagi. Saya jadwal jam 8 pagi. Enak banget jam 10 kelar, bisa lanjut
  • Walaupun katanya perlu waktu pengurusan maksimal 14 hari kerja, visa saya sampai kosan tepat 7 hari dari waktu pendaftaran.
  1. Menggunakan Airbnb

Ini lebih gampang lagi. Tinggal buka situsnya, lihat-lihat, ajak ngobrol si empunya rumah, bayar. Kelar. Serius lho, semudah ini. Haha.

  1. Memilih dan membeli travel insurance

Saya membandingkan 3 penyedia asuransi perjalanan, yaitu AXA Mandiri, Zurich, dan Allianz. Dengan harga yang tidak terpaut jauh, perjalanan 21 hari saya akhirnya saya pilihkan AXA Mandiri yang mudah mekanisme pembeliannya (bisa online) dengan nilai asuransi USD 100.000 (untuk ke Eropa, sebenarnya USD 35.000 sudah cukup, atau sekitar 450 juta/30.000 euro) sementara penyedia asuransi lain dengan nilai yang kurang lebih sama, fasilitasnya masih bagus AXA (bukan postingan berbayar).

  1. Membeli tiket kereta di sana

Paling gampang buka web http://www.goeuro.com. Ada perbandingan harga tiket kereta, pesawat, dan bus. Saya pilih untuk menggunakan kereta dari Amsterdam Schipol, karena tempat yang akan saya datangi, Ghent, lebih praktis jika dijangkau melalui kereta. Kalau pakai pesawat, masih harus naik kereta lagi dari bandara. Mengingat ada koper yang akan saya seret-seret, saya pilih yang (sekiranya) paling tidak bikin saya ribet. Haha.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s