Demi Bukber Apapun Kulakukan

Malam 17 Ramadhan. Aroma bensin menguak dari luar, ada bocah kos sedang utak-atik motornya. Pusing karena menghirup paparannya selama 2 jam terakhir, mata saya pun memutuskan untuk tidak terpejam sementara.

Teringat waktu tadi buka bersama dengan beberapa teman, salah seorang teman menyampaikan selentingan yang membuat saya memutuskan memanfaatkan penolakan terpejamnya mata malam ini dengan bercerita. Selentingannya begini.

“Aku tu bingung lho, kok temenku tiap hari ada aja jadwal buka bersama. Sering banget pada minta tuker shift dari sore jadi pagi sama aku demi sorenya bisa berangkat bukber (buka bersama). Kadang ada juga yang pinjem uang katanya buat bayar buka bersama”.

Buka bersama (bukber) memang rasanya sudah menjadi budaya, bukan lagi ritual sederhana yang dimaknai dengan rasa syukur atas lepasnya dahaga (saja). Saya pernah berada dalam masa dimana hari-hari saya penuh jadwal berbuka puasa bersama. Teman SD, SMP, SMA, jurusan kuliah, HMJ, UKM, komunitas, teman geng (syaelah punya geng), teman kerja, teman ketemu di interview kerja, dan seterusnya. Atas nama menjaga hubungan silaturahmi dan melepas kangen dengan reuni, saya menghadiri semuanya.

Hasilnya?

  1. Salat maghrib kadang terabaikan, terutama jika berada di tempat yang tempat salatnya sempit dengan pengunjung yang membludak sehingga menimbulkan niat “Ah dijama’ ajalah nanti di rumah” sebagai wujud representasi suara hati males-ah-umpek-umpekan, sudah mulai keasyikan ngobrol, atau kekenyangan (alasan bodoh haha)
  2. Salat tarawih tidak dilakukan. Sampai rumah sudah sekitar jam 9. Capek, isya cukup lalu tidur.
  3. Duit bulanan terkuras buat bayar makanan berbuka, yang jika mengambil tempat di resto tentu minimal keluar 30ribu (pada saat itu, di Jogja, 30ribu itu bisa buat makan 3 kali sehari).

Saya paham, ramainya antusiasme berbuka puasa bersama bersamaan dengan jebolnya dompet saya adalah rejeki plus THR untuk orang-orang lain seperti pegawai restoran, supir taksi, pedagang takjil, dsb. Ada perputaran berkah. Tapi, sayangnya, saya pribadi malah jadi lengah ibadah. Asek. “Yo kui urusanmu, Sin (ya itu urusan kamu, Sin)”, kalau kata salah seorang teman saya. Ya sih, itu memang jadi urusan saya. Siapa suruh ga magriban? Siapa suruh ga tarawih? Dan siapa suruh mengiyakan semua undangan?

Nah, kembali ke selentingan teman saya di atas. Tidak ada yang mensyaratkan waktu terbaik untuk bersilaturahmi hanya di bulan Ramadhan, bukan? Jika memang sudah di luar batas kemampuan, siapa yang suruh berhutang cuma demi bisa datang, foto bersama lalu pulang?

Nafsu.

Ya namanya juga kita ini manusia. Kalau nggak punya nafsu kan malaikat ya. Bolehlah, kalau situ mau mikir begitu. Tapi saya lalu jadi bertanya-tanya, sebenarnya kualitas puasa kita sudah sampai mana?

 

Advertisements

One thought on “Demi Bukber Apapun Kulakukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s