Kabar dari Tetangga

Sekira 20an tahun lalu, berdiri sebuah toko kelontong sebagai toko serba ada yang paling hits di komplek perumahan kecil tempat saya tinggal. Apalagi hanya berjarak satu rumah dari rumah saya, betapa gembiranya ibu saya mengirim saya bolak-balik ke sana untuk beli apapun. Iya apapun, sebut saja gas, margarin, garam, kue, alat tulis, alat jahit, kalkulator, karet gelang, obat-obatan ringan, sebut saja. Lebaran tahun ini, toko kelontong itu sudah tutup. Terakhir kali saya ke sana membeli gulungan benang jahit, jumlah barang sudah sangat sedikit, diantaranya mulai dihinggapi debu. Benar-benar tutup.

Pemilik toko kelontong ini memiliki satu orang putri bernama Jessika, atau lidah ndeso saya secara lebih mudah memanggilnya “Jejes”. Karena Sinta kecil saat itu tidak punya banyak teman main sebaya di rumah, jadilah Jejes saya jadikan rujukan tempat bermain selepas TPA. Saya senang main ke rumahnya karena rumah Jejes selalu banyak makanan dan mainan dan satu lagi, karena banyak hal “asing” yang buat saya penasaran. Hal asing yang di kemudian hari saya kenal dengan istilah “perbedaan”. Yup, kedua orangtua saya yang bekerja, saudara yang seagama semua, sekolah dasar negeri yang begitu homogen, membuat saya telat belajar tentang keragaman dan bahwa PPKN hanya mengajarkan saya istilah “toleransi” tanpa menunjukkan seperti apa prakteknya.

Satu.

Jejes adalah keturunan Tionghoa, sementara saya Jawa. Kulitnya putih, kulit saya hitam. Beberapa kali waktu masih Taman Kanak-Kanak (TK) saya sempat diajak ke pesta ulang tahun bersama saudara-saudaranya, dan saya seringkali diam mengamati (sambil makan makanan ulangtahun, tentunya) sambil membatin : kenapa Jejes dan saudara-saudara putih-putih sedang saya hitam? Saya tidak yakin saya pernah menanyakan hal ini kepada orangtua saya atau tidak, tapi sepertinya tidak, sampai saya kelas 6 SD dan menyadari kulit saya yang hitam tidak bisa diapa-apakan. Dari mereka, awal saya belajar bahwa perbedaan ras dan genetik menentukan pigmen kulit.

Dua.

Ayah dan Ibu Jejes secara rutin, sebulan sekali selalu melawat ke rumah saudara mereka di daerah Malioboro. Saking bebalnya, secara tidak tahu malu (ya namanya anak-anak ye kan)  saya meminta pada orangtua saya agar boleh ikut! Saya agaknya paham betapa rikuh-nya orangtua saya karena harus merepotkan orangtua Jejes untuk mengajak saya serta, tapi orangtua Jejes yang baik hati tidak pernah berkeberatan.

 

Pada lawatan ke-entahlah, saya tidak sengaja ikut Jejes main ke loteng di rumah saudaranya dan melihat – yang saya ketahui belakangan –  tempat sembahyang mereka. Ada 3 dupa tertancap di atas mangkok tanah liat di depan patung Budha berwarna kuning dan beberapa lilin merah mengitarinya. Sekali waktu saya melihat saudara Jejes bersembahyang. Baunya harum ketika dupa diambil dan digoyang. Karena lucu dan asing, saya heran. Apa yang mereka lakukan?

 

Saya pingin tanya, tapi ragu. Pingin tanya Ibu, tapi nggak ketemu waktunya. Pingin tanya guru atau teman-teman di sekolah, nggak yakin mereka tahu. Sekolah saya sekolah negeri, teman saya Kristen 1 orang dan saya tahunya dia ke gereja kalau hari Minggu, sudah itu saja. Akhirnya pertanyaan itu terpendam dan hilang, sampai saya nonton film banyak film vampire, film-film Jackie Chan (ayolah, pasti generasi 80-an familiar dengan Wong Fei Hung, kan?), film Kera Sakti, lalu menyimpulkan sendiri – secara dangkal – seperti apa agama Budha itu.

 

Ngomong-ngomong, saya punya alasan lain kenapa saya suka ikut melawat ke saudara mereka, yaitu karena lepas lawatan, Ayah Jejes selalu memesan becak lalu kami akan berhenti di McDonald Malioboro dan makan nasi ayam yang tepungnya gurih di sana. Saya suka sekali, soalnya keluarga saya tidak pernah mempertimbangkan McDonald sebagai salah satu destinasi makan keluarga, karena buat kami definisi destinasi makan keluarga adalah sate kambing muda HM Nuri di bilangan Maguwoharjo serta mi Jakarta pinggir jalan di Jalan Gejayan (sekarang Jalan Affandi).

Tiga.

Suatu kali saya main ke rumah Jejes hingga lepas Magrib. Jejes dipanggil ibunya makan, saat itu ada tantenya datang dan baru selesai masak. Saya juga disuruh ikut makan. Saya lihat menunya semacam semur ayam kuah dan sayur (lupa sayur apa, tapi kalau tidak salah sayur bening).

 

“Ini apa?” tanya saya menunjuk menu semur.

“Itu swikee,” jawab tantenya Jejes.

“Swikee?” saya bingung.

“Katak. Sinta pernah makan katak?” tanya tantenya Jejes.

“Belum,” jawab saya sambil membatin seperti apa rasanya katak.

“Eh Sinta jangan makan itu!” tiba-tiba ibunya Jejes lewat. Tante Jejes heran, tidak tahu kenapa.

 

Lalu ibunya Jejes berdiskusi dengan tantenya, bilang kalau orang muslim nggak makan katak. Saya yang masih piyik (bahasa Jawa yang artinya anak ayam, ,-red) alias kelas 1 SD waktu itu hanya paham bahwa saya tidak boleh makan daging babi dan anjing, tapi entah dengan katak. Tapi akhirnya saya nggak makan swikee itu. Baru di rumah saya tanya sama Ibu saya kenapa saya nggak boleh makan katak (ini saya ingat, benar-benar tanya karena penasaran), dan pada saat itu (lagi-lagi) saya nggak paham karena Ibu saya jawab : karena katak itu amfibi, hidup di darat sama air. Jadi kita (orang muslim) nggak boleh makan.

 

Belakangan, dan baru benar-benar ketika saya menulis cerita ini, saya mengetahui alasan bahwa hidupnya katak di 2 alam itu hukumnya syubhat atau meragukan (telat buanget ya, ya maap). Yang meragukan, baiknya ditinggalkan (hadis nabi). Tadinya saya mau mengutip ayat, semisal Al-Maidah ayat 3, tapi begitu saya baca kok nggak ada disebutkan tentang amfibi. Tanya sana sini, sejauh ini jawaban tentang syubhat ini yang paling mendekati. Ada juga alasan lainnya adalah bahwa katak termasuk hewan yang diistimewakan karena memiliki riwayat sejarah di jaman Nabi (di antaranya Nabi Ibrahim, Nabi SAW). Mungkin ada yang mau bantu saya kasih dalil lainnya? Kalau bisa jangan dari gugel yang sumbernya samar-samar ya. Haha.

 

Cerita terakhir adalah yang paling saya ingat tentang mereka. Perkenalan pertama saya dengan makanan halal-haram yang bertahun-tahun kemudian, baru saya sadari, saya diajari praktek toleransi pertama kali dari keluarga ini.

 

Beberapa hari lalu, ketika buka bersama di rumah sama Ibu, Ibu cerita ayah Jejes meninggal sekitar 2 minggu yang lalu . Makan saya berhenti sejenak. Semenjak saya beranjak SMP, saya sudah jarang, mungkin tidak pernah, main lagi ke sana karena jadwal sekolah dan ekskul mulai padat dan beban pelajaran makin menyiksa *baiklah ini lebay*. Sesekali saya beli roti di sana dan ayah Jejes selalu menanyakan kabar sekolah saya. Sampai lulus kuliah, sampai terakhir kali beli benang jahit, memberikan uang kembalian dengan tergopoh, saya masih melihat mata yang sama seperti yang dulu saya lihat waktu mengajak saya liburan akhir pekan.

 

Koh, istirahat yang tenang di sana ya. Terima kasih untuk masa kecil saya yang menyenangkan. Maaf lahir batin. Al Fatihah.

Advertisements

6 thoughts on “Kabar dari Tetangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s