Pekerja di Start-Up

Sudah agak lama saya pingin menulis ini, dimulai dari aktivitas bertukar kabar dengan seorang kawan hingga janji untuk menulis tentang pekerjaan. Kami berdua sama-sama memilih untuk bekerja di start up dan masih bertahan di tempat yang sama terhitung dari pertama kali kami memutuskan untuk berkelana di usaha bisnis semacam ini. Berikut beberapa hal yang saya pelajari selama 2.5 tahun terakhir, yang sekaligus menjadi ladang belajar saya yang tidak habis-habis.

  1. What do you expect?

Start-up sebenarnya lebih merujuk ke usaha yang berkaitan dengan bidang teknologi digital, sedangkan tempat saya kerja kegiatannya bikin cokelat. Namun karena memenuhi 5 dari 7 kriteria startup1, sebut start-up aja ya atau usaha mula.

  1. Usia perusahaan tersebut masih kurang dari 3 (tiga) tahun
  2. Jumlah pegawai pada perusahaan kurang dari 20 orang
  3. Pendapatan perusahaan per tahunnya kurang dari $ 100.000
  4. Perusahaan juga masih dalam tahap perkembangan
  5. ‘Biasanya’ perusahaan startup ini bergerak dalam bidang teknologi
  6. Produk yang dibuat oleh perusahaan startup biasanya adalah aplikasi serta berbentuk digital
  7. Perusahaan startup juga biasanya beroperasi melalui website

Perusahaan kecil ini mengawali definisi dirinya dengan sebutan “kewirausahaan sosial”  sih sebenarnya, namun popularitas kata “start up” ternyata lebih memudahkan penjelasan dalam waktu yang tidak banyak. Lalu apa yang dijanjikan dan diharapkan dari tempat kecil ini, pada waktu itu?

I set my expectation in zero when I first arrived at Raden Inten Airport, Bandar Lampung.

Tempat kecil, di kota kecil, dengan tim kecil, pengalaman yang minim, dan tanpa ekspektasi apapun. Saya pikir, saya terlalu gegabah mengambil tawaran pekerjaan, atau terlalu lugu untuk mempertimbangan skala usaha yang belum 3 tahun berdiri untuk menjadi landasan karir.

Saya pikir begitu pada saat itu. Tapi saya tetap jalan. Ya gimana, sudah menjatuhkan pilihan.

 

  1. Tim kecil

Saya beruntung karena berada dalam tim-tim kecil yang memiliki empati besar, mengingat salah satu hal awal yang penting dibangun saat membuat sebuah usaha mula adalah memilih tim, tentu di samping produk dan model bisnis2. Nanti akan saya ceritakan tentang tim-tim kecil ini, dari yang terdekat dengan yang saya kerjakan yaitu produksi.

 

  1. Kebiasaan

Saya jarang sekali mendapatkan kata “tolong, maaf, dan terima kasih” saat bekerja untuk bantuan-bantuan kecil karena seringkali yang kecil itu dianggap tak berarti dan tak perlu diberi respek. Budaya kecil seperti ini membentuk perilaku hingga jadilah orang-orang dewasa seperti saya ini yang mahal ucapan “tolong, maaf, dan terima kasih”.

Mengambilkan sendok, membantu angkat barang, menyampaikan pesan, mengirim nomor telepon, melakukan rutinitas sesuai deskripsi tugas, hal-hal yang sederhana sekali. Tidak ada artinya, pun tidak membuat hasil penjualan meningkat tajam seketika atau investor mampir dengan 100.000 USD.

Kebiasaan tersebut ternyata dilakukan sehari-hari di sini. Bukan untuk membuat seseorang jadi gila respek atau penghargaan, melainkan membuat jadi merasa…emm…apa ya istilahnya. Dimanusiakan, ya, itu.

 

  1. Menyelesaikan masalah

Ini lagi-lagi tentang budaya. Masalah bisa datang dari siapa saja, tapi tak pernah sekalipun kami berbicara tentang kambing hitam yang harus disudutkan hingga hilang kepercayaan diri. Setelah masalah selalu berfokus cari solusi, bukan menguber-uber si pembuat masalah sampai lelah demi kepuasan seperti “menangkap penjahat”. Haha.

Dan satu lagi adalah perihal kepercayaan. Jadwal terbang bos saya yang super padat membuat saya ditinggalkan bekerja tanpa supervisi yang tidak terlalu ketat. Bagaimana seseorang yang tidak pernah bekerja di Indonesia dengan orang-orang Indonesia, percaya begitu saja dengan orang asing? “Giving a trust”, kalau dalam posisi seperti bos saya Sabrina, saya kok mikirnya susah banget. But she does.

Saya jadi ingat pernah baca di sebuah artikel parenting, bahwa memberikan kepercayaan pada anak adalah hal berat bagi orangtua yang selalu berkehendak melindungi anaknya, mengarahkannya selalu ke jalan yang benar. Tapi kepercayaan membuat si anak sebenarnya jadi punya ruang untuk berbuat salah, belajar dari kesalahannya, bertanggungjawab terhadap risiko yang ditimbulkannya, dan terbiasa menjadi bagian dari solusi

Sulit, sulit sekali saya bayangkan kalau saya dalam posisi bos saya. Saya bisa aja nakal, kabur, menghilang, tak bertanggungjawab, berbohong, dan sebagainya.

But, again, despite the fact that we’re two strangers just firstly met via email and Skype, she does.

 

  1. Kesempatan belajar

Bos saya ex-Mc Kinsey. Saya tidak terlalu tahu bagaimana bagusnya Mc Kinsey itu tapi melihat bagaimana bos saya bekerja, memperhatikan alur pikirnya, dan bagaimana caranya melihat perkembangan individu orang-orang yang bekerja di sekitarnya membuat saya berpikir : Mc Kinsey ini pasti tempat bekerja yang bagus banget. Hahaha.

Belum lama ada support yang sangat besar diberikan pada saya untuk belajar cokelat di kota Ghent, Belgia. Pertama kalinya dalam hidup saya menggunakan paspor dan visa. Haha ndeso yoben. I can say that I can be there because of a choice I took 2 years ago. Entah berkah, rencana Tuhan, atau keberuntungan, entahlah. Sepertinya sih gabungan ketiganya.

Begitulah kira-kira. Jadi kalau ada yang tanya kenapa saya begitu betahnya tinggal di Lampung, mungkin tulisan ini bisa jadi jawaban tanpa saya harus capek-capek jawab. Ohya, pertanyaan tentang gaji dan kesejahteraan itu confidential ya. Ya kalo lihat saya yang masih modal ngekos ini jelas masih jauh dari standar “sejahtera” di khalayak umum. Tapi ya gitu.

Rasanya hal-hal yang harus saya syukuri jauh lebih banyak daripada hal-hal yang harus saya tuntut. Nominal penting, tapi saya tipe orang yang percaya rejeki itu sudah digariskan, tinggal ikhtiar manusianya saja yang bisa sampai mana yekan? Selo to uripku haha. Jadi gitu. Memilih start up, dari sudut pandang karyawan, begitu ceritanya. Namun dari sudut pandang pemilik pasti beda. Pengalaman teman-teman yang lain pun pasti beda, karena jalannya sebuah usaha mula, kentara sekali, adalah cerminan dari pendirinya.

p.s : Ngomong-ngomong kalau penasaran seperti apa produk yang saya bantu kerjakan 2.5 tahun terakhir ini, sila cek ke www.krakakoa.com ya.

 

1 : http://www.wahyupratama.id/2016/10/mengenal-apa-itu-startup-dan-perkembangannya.html

2 : Startupedia, ditulis oleh Anis Uzzaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s