Berbenah Bersama Konmari (2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang saya pikir kalau jadi satu judul menjadi terlalu panjang. Jadilah saya bagi 2 sehingga rasanya lebih santai dibaca. Hehe.

Printilan

Alat rias, buku, kertas, dan alat tulis adalah kategori printilan. Karena digunakan hampir setiap hari dan harus berbagi meja rias dengan Ibu, saya memilih untuk mulai berbenah dari sana. Seperti cara sebelumnya, semua alat rias saya keluarkan dari tempat persembunyiannya dengan tempat sampah siap di dekat kaki saya.

Saya agak takjub dengan sistem inventori stok ala Ibu. Empat botol alas bedak, misalnya, disimpannya dengan alasan stok padahal 1 botol juga habisnya bisa 2 bulan. Artinya 8 bulan ke depan, tidak akan ada drama kehabisan alas bedak kesayangan. Tapi pertanyaan saya : apa iya stok harus 8 bulan banget? Berasa alas bedak ini sediaannya cuma musiman. Huft. Pun hal yang sama terjadi dengan kapas, lipstik, bedak, sisir (iya, sisir! Jaga-jaga kalau hilang. Padahal hilang mah kalau patah saja lalu (di)hilang(kan) di tempat sampah).

Dengan berat hati, akhirnya segala kosmetik yang sudah mencapai masa kadaluarsa saya singkirkan, sisir-sisir disimpan, bedak dan lipstick disortir, dan uang koin yang berserakan di meja rias pun dikumpulkan.

Mohon jangan tanya kenapa ada uang koin di meja rias, karena memang biasanya dia ada dimana-mana, betul?

Alat tulis

Tahap ke-2 adalah membereskan alat tulis. Ayah saya rajin sekali diundang mengisi seminar dan tiap seminar selalu mendapat seminar kit yang terdiri dari buku catatan serta alat tulis. Beberapa kali, Ayah saya mengisi seminar pelatihan dimana ratusan pensil kayu disiapkan untuk pesertanya dan terjadi kelebihan stok di akhir acara. Bisa ditebak, bukan, apa yang selanjutnya terjadi?

Yak, benar jika tebakanmu adalah bahwa pensil-pensil kayu itu, setidaknya ada 20 buah per kali seminar, berpindah lokasi ke rumah. Itu baru pensil. Belum buku catatan, goodie bag, pena, dan air minum hotel yang diniatkan dibawa untuk bekal jalan pulang agar tidak kehausan dan harus beli di bandara – tapi berakhir disimpan di rumah dengan niatan untuk bekal perjalanan selanjutnya.

Ada tiga buah meja kerja berisi peralatan tulis di rumah saya. Sampai tulisan ini naik, saya baru berhasil menata ulang 1 meja. Bukan prestasi memang, tapi sungguh, melelahkan memang melihat tumpukan benda “investasi” yang berpredikat dibuang sayang tergeletak berdebu di rumah.

Buku dan Kertas

Menyerah sementara waktu dengan alat tulis, saya pilih merapikan buku. Begini aturan yang disarankan Konmari dan kemudian saya rekayasa sedikit :

  1. Letakkan semua buku di lantai
  2. Pilih buku yang memang dibutuhkan
  3. Bagi menjadi beberapa kategori.

Konmari memberikan salah satu saran kategori seperti : umum, visual, praktis, dan majalah. Bagi saya yang tidak punya terlalu banyak buku dan rak yang terbatas hanya 4 slot, saya memilih membaginya (mungkin untuk sementara) menjadi buku yang penulisnya orang Indonesia, buku yang penulisnya bukan orang Indonesia (terjemahan termasuk disini), dan buku diktat seminar/kuliah. Hasilnya? Saya masih punya 1 slot untuk sekitar 30-40 buku di masa depan yeeeeiiiyyyy!!

  1. Singkirkan buku yang ketika dibaca judulnya membangkitkan niat “nantilah kapan-kapan aku baca” dan pertahankan buku-buku yang “favorit sepanjang masa”. Tentu kadar favorit ini akan berubah-ubah seiring dengan waktu, jadi berbenah buku saya pikir memang harus dilakukan minimal setahun sekali.
  2. Bukunya jangan dibaca waktu sortir, kelamaan tidak akan kunjung selesai aktivitas sortirmu.

Menyingkirkan bukan lantas dibakar atau dibuang sekenanya. Bisa niatkan untuk dibagikan gratis atau dikirim ke komunitas-komunitas yang mendistribusikan buku-buku kepada pembaca nun jauh di sana. Insya Allah.

Lalu terakhir adalah kertas dan bahan seminar. Aturannya sederhana yaitu seberapa tinggi kemungkinan saya akan membaca ulang kertas-kertas tersebut. Bagian sortir kertas kali ini cukup mudah karena dalam sekali lirik saya langsung bisa memutuskan untuk merelakannya kepada tukang loak kertas atau menyimpannya. Hasilnya adalah 90% kertas-kertas itu sudah terbongkok rapi, siap berpindah tangan (ke tukang loak).

Berbenah ternyata bisa jadi salah satu cara penyembuhan diri. Melihat hanya barang-barang yang menyenangkan dilihat itu rasanya damai, dibandingkan dengan melihat betapa banyak barang yang mampu terbeli. Yah, berbelanja barang memang seringnya menyenangkan, sih, seperti ada kepuasan batin sendiri begitu. Tapi pasca belanja dan barang mulai terlihat menumpuk, perasaan puas itu lalu menguap.

Saya sarankan sebelum mulai berbenah, ada baiknya membaca bukunya Marie Kondo “The Life-Changing Magic of Tidying Up” lalu tentu saja jangan dilanjutkan dengan tidur, tapi mulai berbenah. Tidak semua tips harus Anda praktekkan, tapi beberapa betul-betul bermanfaat dan memang betul adanya, kalau buat saya.

Nah, selamat berbenah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s