Sepekan Belajar

Pekan lalu adalah pekan yang menyenangkan buat saya. Pertama, saya mengunjungi kediaman kawan untuk ikut berkebun ala-ala, ke-2 belajar memahami dunia e-commerce dari tahap yang paling dangkal, dan ke-3 saya datang ke sebuah acara berbagi pengalaman dari pemilik bisnis lokal di Yogyakarta. Secara kebetulan, saat saya mengunggah salah satu gambar di media sosial, seorang kawan menyeletuk “Bagi ilmunya doong”, seketika saya berpikir, apa info saya cukup berharga untuk dibagi, toh kawan-kawan sepantaran saya banyak yang lebih ahli.

Namun atas rasa syukur saya sudah melewati seminggu yang menyenangkan kemarin, saya tuliskan hasil yang saya tangkap. 

1.Berkebun di Agradaya

Saya tidak menyimpan dokumentasi apapun karena terlalu sibuk mainan tanah ahahha, tapi gerakan dan kegiatan Agradaya bisa Anda baca di sini dengan dua “orangtuanya”, Asri dan Dhika. Sabtu lalu tanggal 10 Maret mereka mengundang secara terbuka, orang-orang yang berkenan hadir ke rumahnya untuk belajar pembibitan sederhana dan membuat kompos dari bahan-bahan sisa di sekitar pekarangan rumah. Lokasi kegiatannya berada di Minggir, Sleman, sekitar 40 menit jalan santai kalau dari rumah saya. Sabtu pagi pula! Kalo nggak niat mungkin hanya akan berakhir : “Aku skip ya. Mager nih”. Haha.

Yang saya pelajari pada Sabtu pagi yang singkat itu ada beberapa hal, seperti :

Pembibitan bagi pemula

Penting untuk diketahui bahwa pembibitan sebaiknya dilakukan pagi-pagi sekali jam 6 pagi, misal, di kala intensitas matahari belum terlalu banyak unsur UV-nya. Alih-alih menggunakan polybag, Asri menggunakan daun pisang yang digulung dan dikunci dengan lidi runcing. Alasannya, bahwa kadang polybag membuat tanaman “kaget” ketika dipindahkan dari polybag yang mulai bertunas ke lahan yang lebih luas, atau sering juga akarnya tercerabut dengan sukses lalu harus beradaptasi dengan akar seadanya di lahan tanah yang baru hingga seringkali yang sulit beradaptasi akhirnya tidak bertahan alias matek. Huft. Lalu yang daerah sekitarnya tidak ada daun pisang bagaimana? Ya gampang aja, hati-hati waktu memindahkan dari polybag. Hehe.

Jadinya seperti tukang putu gitu, komposisi campuran 1:1:1 antara tanah, pasir, dan kompos sebagai media tumbuh bibit dimasukkan ke selongsong, ditanam bibitnya, lalu diletakkan di papan kayu secara vertical hingga memadat dan siap pindah “rumah”.

Pembuatan kompos

Saya tidak ikut bantu-bantu banyak di pengomposan, namun secara ringkas Dhika menjelaskan ada 3 teknik dasar pembuatan kompos, yaitu hot composting, medium composting, dan slow composting. Kemarin, yang dipelajari adalah hot composting (pembuatan kompos dengan memproporsikan kandungan karbon, nitrogen, dan air) dengan perbandingan karbon dan nitrogen sebanyak 3:1. Bahan-bahan sumber karbon banyak didapat dari dedaunan atau batang yang kering, sementara sumber nitrogen didapat dari sampah organic yang belum mongering (tapi jangan menebang pohon yang masih segar juga ya). Air diberikan secukupnya hanya jika tumpukan sampah betul-betul kering, fungsinya untuk menciptakan kondisi lembab yang disukai oleh mikroorganisme pengurai nantinya, dibantu dengan tambahan cairan untuk mengkatalis proses fermentasi, namun tetap secara alami.  Terakhir, tumpukan sampah organic tadi ditutup dengan kain bekas untuk membentuk kondisi anaerob dan secara berkala dilakukan pembalikan agar panas hasil fermentasi tidak melulu tersimpan di dalam gundukan dan menimbulkan fermentasi berlebih di bagian dalam gundukan (dimana bakteri anaerob bekerja dengan lebih rajin), serta agar fermentasi terjadi menyeluruh.

Ini sebenarnya agak-agak logika yang saya sambungkan dengan informasi dari Dhika, semoga penangkapan saya tidak menyesatkan. J

  1. Dasar-dasar pengelolaan akun jualan oleh Sirclo

Saya tidak dibayar dengan menyebutkan Sirclo sebagai judul di atas, tapi karena sudah dapat buku catatan gratis setelah melontarkan pertanyaan di salah satu sesi, ya tidak apa lah (sogokan murah). Jadi, saya membaca pengumuman mereka di salah satu media sosial bahwa mereka akan mengadakan bincang-bincang singkat di Yogyakarta. Karena gratis dan mengambil tema sangat mendasar mengenai perkembangan bisnis e-commerce, jadilah saya yang awam bisnis ini daftar. Ohya, untuk tahu lebih jauh mengenai Sirclo, bisa langsung meluncur ke web mereka di sini.

Presentasi perusahaan

Mereka membuka bincang singkat dengan fakta perkembangan bisnis digital belakangan. Sumber fakta tidak dicantumkan dengan jelas, tapi beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Lebih dari 35% pelaku usaha e-commerce bergerak di bidang fesyen
  • 65% pengguna fasilitas e-commerce memilih metode COD (cash on delivery) untuk melakukan pembayaran
  • Pertimbangan konsumen dalam memilih opsi pembayaran kurang lebih ada 4, yaitu opsi yang cepat, aman, dan beragam; ada program promo; ketentuan pengembalian barang yang mudah karena suatu hal; dan fasilitas pengiriman gratis..wooo

Popularitas instagram juga dibahas di sini, dimana aplikasi yang sedang naik daun untuk berjualan ini betul-betul dieksplorasi habis-habisan saat ini. Fitur-fitur terus diperbarui, begitu pula algoritmanya sehingga mendorong spesialis sosial media bagian admin betul-betul digenjot untuk aktif mengunggah foto barang yang dijual agar selalu terngiang di benak pengikutnya.

Selain instagram, Sirclo juga mendorong pemakaian situs web yang memudahkan pengontrolan stok jual beli. Masih sedikit yang berinvestasi di situs, karena memang dibutuhkan investasi yang lumayan untuk mengurus sistem dan membiasakan konsumen yang lebih sering bertanya-tanya melalui aplikasi pesan singkat seperti Whatsapp atau Line berpindah pola pembelian. Beberapa manfaat penggunaan situs web untuk pengelolaan bisnis yang saya catat antara lain :

  • Bisa menonjolkan keunggulan produk dengan leluasa
  • Metode pembayaran variatif tidak berbatas m-banking
  • Pop up offer (gambar iklan yang otomatis muncul ketika pelanggan terhubung ke situs penjual). Ini kadang mengganggu kalau dari sudut pandang saya sebagai konsumen, tapi dari segi penjual berguna untuk menjadi pengingat atau memberi info terkini.
  • Fitur navigasi bisa sangat lengkap (best seller, new arriveal, dst)
  • Visualisasi produk yang berelasi dengan produk utama lebih “terlihat”
  • Foto produk lebih jelas, spasi untuk detail lebih luas

Kejutan

Ohya, serunya adalah di sesi terakhir, mereka mengundang Nadine Gauss, pemiliki salah satu label fesyen hijab yang sedang hits di kalangan urban saat ini untuk berbagi cerita mengenai bisnis yang sekarang mereka lakoni. Menyenangkan melihat pasangan suami-istri yang bisa bekerja bersama dan serendah hati ini dan baru tahu mereka aslinya orang Jakarta yang kuliah di Yogyakarta dan jatuh bangun berbisnis sejak tingkat mahasiswa. Saya selalu kagum dengan orang-orang ini, yang bisa mengembangkan ide, kreativitas, karya sendiri dari bahan baku hingga produk akhir dan sukses mengambil hati konsumen melalui jalan yang tidak gampang. Hehe. Saya sendiri kebetulan juga pakai produk mereka dan suka dengan bahan dan desainnya, jadi dipastikan akan pesan ulang di kemudian hari. Kalau ada rejeki. Ahaha.

IMG20180314205208

suasana presentasi (difoto dengan kamera seadanya)

  1. Pecha Kucha Jogja vol 19

Pecha Kucha pertama sayaaaa!!! Sangat bersemangat menghadiri acara 3 jam-an ini. Bertempat di Antologi, sebuah ruang diskusi di tengah pemukiman kos-kosan mahasiswa, Pecha Kucha kali ini menjadi salah satu yang jarang terjadi karena mengambil lokasi di “utara”. Yup, karena acara yang sudah-sudah selalu diselenggarakan di daerah “selatan” Jogja.

IMG20180316215312

Salah satu presentasi di event Pecha Kucha Jogja

Anyway, jumlah pembicara yang datang malam itu ada 11 orang dimana tiap pembicara diminta untuk menyampaikan presentasi 20×20, maksimal sebanyak 20 slide dengan masing-masing slide 20 detik penjelasan. Pembicara yang datang pada malam dengan tema besar tentang pangan itu antara lain :

  • Attempe : pembuat tempe dengan semangat kedelai organic non GMO
  • Kelas Nalar Pangan : bagaimana sebenarnya karbohidrat bekerja dalam tubuh kita dan apa hubungannya dengan desas desus kencang mengenai obesitas dan penyakit gula
  • Oriflakes : flakes dari umbi garut
  • Ademuy Gelato : sarjana peternakan yang membuat gelato benar-benar dari SCRATCH dan mengetahui betul bahan baku yang digunakannya. Menarik banget.
  • Sekolah Pagesangan : ini tempat yang luar biasa saya bilang. Go check them here.
  • Hanhan Chocolate : bean to bar chocolate, dimiliki oleh dua kakak beradik kembar
  • Agradaya : bercerita bagaimana menjalin kerjasama dengan 150 petani empon-empon di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo
  • Bakudapan : ajang diskusi tentang pangan dan keterkaitannya dengan wacana politik, ekonomi, sosial, dan budaya
  • Chew Kitchen : ketika idealisme gluten free betul-betul ditegakkan dan menjadi produk kudapan yang enaaak
  • Kampung Halaman : Berkarya melalui musik yang kritis bertemakan kesinambungan pangan
  • Antologi : berkisah mengenai niatan dibentuknya ruang kumpul dan belajar bernama Antologi

Catatan lengkap mengenai hasil diskusi Pecha Kucha beberapa malam yang lalu bisa disimak di akun instagram mereka di sini. Acara ini diadakan dengan lesehan dan hanya berinvestasikan Rp 10.000 saja. Saya mungkin terlalu naïf untuk membandingkannya dengan kelas-kelas di kota besar, atau karena saya anak kampung sini asli yang terlalu lama tinggal di kota kecil ini, tapi apa ya. Cara memelihara idealisme dan ritual guyub-nya berbeda.

Jelas, karena sudut pandang yang digunakan juga berbeda yakan. Saya jadi teringat ketika beberapa kawan menanyakan saya tentang kemana harus pergi jika mau melancong ke Jogja. Saya akan berpikir sebentar sebelum menjawab : mau ke utara atau selatan? Wisata alam, kuliner, atau budaya? Jangan lupa, sempatkan berbincang dengan manusia-manusianya juga.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s