Dunia Kali : Cerita dari Bapaknya

Screenshot_2018-05-30-21-32-59-61Dunia Kali hanyalah satu bab dari lima bab yang dituliskan Puthut yang dikumpulkan dari status-status di akun Facebook pribadinya. Dicetak dalam bentuk fisik terbatas yang dalam hitungan jam langsung menyentuh batas maksimum (kalau tidak salah waktu itu cuma ditawarkan 200 eksemplar bagi yang berminat memesan), belakangan Puthut ternyata menyilakan siapapun mengunduh bebas versi elektroniknya

Saya pernah mengutarakan kekaguman saya terhadap Puthut pada seorang kawan, saya bilang saya suka tulisannya yang mengalir, terutama yang berupa fiksi maupun opini. Dia mengiyakan, tapi katanya jangan terlalu ngefans. Lol. Ya, banyak memang penulis yang lebih baik tentunya, tapi yang saya suka dari penulis-penulis seperti Puthut adalah bahwa selalu ada sisi humanis dan kejujuran dalam tutur tulisnya. Itu yang membuat tulisannya menjadi khas.

Tulisan-tulisan pilihan di buku ini tidak terlampau panjang, malah, ada yang betul-betul pendek dengan judul di tiap ceritanya. Saya punya cerita favorit di tiap bab utama, namun tentu saja bab Dunia Kali adalah yang paling favorit karena saya penggemar cerita keseharian anak-anak. Kalau pernah baca Na Willa, nah itu juga salah satu favorit cerita tentang keseharian anak-anak, bedanya Na Willa ditulis dengan sudut pandang anak sedangkan Dunia Kali lebih banyak ditulis dari sudut pandang seorang bapak. Favorit saya di bab ini adalah cerita ketika Kali melakukan kesalahan, salah satunya menjatuhkan barang elektronik milik bapaknya (Puthut). Cara meminta maaf seorang bocah yang tulus pada orangtuanya bikin saya senyum-senyum bacanya.

Di bab lain, beberapa orang tokoh juga dibicarakan oleh Puthut, semisal Pak Roem, Dahlan Iskan, Pram, dan Goenawan Mohammad. Saya terutama mengiyakan betul deskripsi Puthut tentang GM zaman now. Paparan lain yang juga menarik dan paling saya ingat adalah tentang menjalankan sebuah usaha bisnis yang kemudian harus tutup (tapi ada juga cerita manisnya kok), memenuhi sebuah janji, dan renungan-renungan keseharian lainnya. Memang penting ternyata untuk segera menuliskan buah pikiran kita seketika bertemu persoalan. Bukan, bukan untuk beropini ilmiah (ya ini bisa dilakukan sebagai upaya pemaparan opini lanjutan, atau memang berniat menyampaikan opini panjang di portal media cetak dan/atau daring), tapi mengasah kepekaan. Toh, kepekaan pribadi seseorang yang menggiringnya pada opini belum tentu benar terus. Ya namanya juga mengasah. Mana ada mengasah cuma 1-2 kali gesek ke alat pengasah ya kan.

Membaca buku ini, salah satunya, bikin saya jadi ingin bikin yang serupa nanti kalau saya punya anak. Wkwk. Amin. Mungkin cuma akan dicetak 2 eksemplar, buat saya dan suami saya. Haha boleh lah ya menambah 1 bucket list (yang entah kapan bisa terrealisasi). Ohya, bagi yang ingin mengunduh gratis buku Dunia Kali dan Kisah Sehari-hari, sila klik di sini ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s