Pesan-Pesan Pak Jobs

Beberapa bacaan bisa sangat mempengaruhi cara berpikir pembacanya. Termasuk ketika membaca biografi seorang tokoh, cara penulis memaparkan bisa membuat pembacanya sedang berada dalam dongeng sebelum tidur yang panjang lalu bangun dengan kisah hidup si tokoh yang berputar-putar di kepala. Isaacson dengan bukunya “Steve Jobs”, belakangan sangat mempengaruhi saya. Jadi kalau Anda lagi berada dekat dengan saya lalu saya kutip atau tiba-tiba bercerita tentang Apple dan buku tersebut, lahap saja ya.

Saya menandai beberapa bagian dalam buku Steve Jobs, semata ingin menandai paragraf menarik yang sedang saya baca, seperti konsep pikir, opini, pengalaman, nasehat, hingga karakter-karakter melankolis yang manis. Tadinya hanya mau begitu saja, tapi mengingat bahwa saya sedang selo kalimat bijak “yang ditulis adalah yang lebih lama diingat”, sekalian saja saya ketik. Mungkin buat Anda yang sudah baca bukunya, dengan mudah ingatan Anda akan melompat ke bagian-bagian penggalan yang saya sebutkan di bawah. Tapi buat Anda yang belum, barangkali pilihannya ada 2 : tetap baca tulisan saya atau ya baca dulu bukunya. Xixixi.

  1. Mike Markkula kepada Jobs (hal.102)

Ada 3 hal yang diajarkan Markkula pada Jobs tentang filosofi pemasaran di Apple, yaitu empati (memahami perasaan pelanggan), fokus (mengerjakan apa yang diputuskan untuk dikerjakan, abaikan peluang yang tidak penting), dan hubungan (bagaiman produsen terhubung erat dengan konsumennya melalui produk dengan melakukan penilaian mulai saat si konsumen menyentuh kemasan produk untuk dilanjutkan membukanya, mengeluarkan isinya, dan seterusnya).

  1. Power point (hal.418)

Kata Jobs, “Orang-orang yang paham benar mengenai apa yang ingin mereka sampaikan tidak butuh power point”. Usai membaca bab ini, saya menyempatkan diri membuka Youtube dan mencari video-video presentasi Jobs. Saat melakukan townhall dan harus presentasi di depan layar sebesar layar bioskop, Jobs benar-benar menjadi pusat perhatian. Iya, hanya dia. Tulisan atau di belakang punggungnya nyaris tidak terhiraukan. Tidak ada grafik-grafik rumit dengan istilah-istilah aneh. Tidak ada gambar yang terlalu banyak hingga mendistraksi penonton saat ia, si presenter, bicara. Pun ketika melihat Tim Cook (CEO Apple sekarang) berada di posisi yang sama, ia juga melakukan hal yang sama meski dengan gaya presentasi yang berbeda.

Jobs menyukai detail, namun ia tidak menyukai kerumitan. Lagipula, siapa, sih, yang suka kerumitan?

  1. Warga kelas dua (hal.445)

Alergi terhadap slide presentasi yang terlalu banyak tidak membuat Jobs lantas alergi terhadap rapat. Ia menjadwalkan rapat rutin setiap hari untuk mendengarkan pendapat dari departemen-departemen yang berbeda, salah satunya rapat eksekutif. Contoh tema diskusinya bisa mengenai penerimaan karyawan baru, utamanya pegawai kunci. Alih-alih bertemu manajer, si karyawan baru dimintanya untuk melalui tahap bertemu langsung dengan jajaran eksekutif untuk kemudian hasil assessment mereka dibahas dalam rapat untuk penentuan keputusan diterima atau tidak. Apa alasannya?

Karena Jobs tidak ingin perusahaan tersebut kebanjiran orang “kelas dua” dan menyeleksi orang-orang berbakat memang perlu seserius itu. Ya ya.

  1. Tentang melakukan perubahan (hal. 459)

Saat toko Apple sudah mendekati jadwal pembukaan, seorang karyawan yang bertanggungjawab terhadap konsep penataan toko mendatangi Jobs dan mengatakan bahwa dia baru menyadari bahwa penataan toko salah dan mengutarakan seharusnya bagaimana. Awalnya Jobs menolak keras mempertimbangkan waktu, biaya, dan tenaga yang sudah keluar untuk membangun toko dengan konsep awal yang salah tadi. Namun akhirnya, Jobs mengakui yang dikatakan karyawannya benar. Katanya,”Jika sesuatu tidak tepat, kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja dan mengatakan kita akan memperbaikinya nanti,“ dan diubahlah konsep toko Apple. Cerita ini saya garisbawahi karena 2 hal. Pertama, amarah membuat logika salah-benar menjadi bias. Ke-2, tidak ada gunanya membiarkan sesuatu yang tidak pada tempatnya bertahan lama karena makin lama dibenahi, ujung-ujungnya pasti akan tetap terasa salah juga dan malah memperpanjang ekor kesalahan yang dibuat.

  1. Menciptakan produk (hal.499)

Jobs adalah murni orang produk. Dalam paragraf ini, Jobs sedang mengembangkan iPod dan kemudian Microsoft meluncurkan produk sejenis namun dalam kurun waktu 2 tahun penjualannya menurun drastis. Kata Jobs, “Barang itu dibuat oleh orang-orang yang tidak benar-benar menyukai musik. Sebaliknya, iPod dibuat karena kami secara pribadi menyukai musik. Kami membuat iPod untuk diri kami sendiri, dan sesuatu yang dibuat untuk diri sendiri tidak akan dikerjakan secara serampangan.”

  1. Pidato di wisuda Universitas Stanford (hal.555)

Jobs sebenarnya berencana menyewa jasa penulis pidato terkenal, namun pada akhirnya dia sendiri yang menulis pidatonya. Pidatonya berisi 3 buah cerita. Cerita pertama adalah cerita saat dia memutuskan keluar dari kampus, ke-2 adalah ketika dia dipecat dari Apple dan melanjutkan hidup sebagai pemula, dan yang ke-3 adalah tentang penyakit kankernya dan sudut pandangnya mengenai kematian. “Mengingat bahwa Anda akan mati adalah cara terbaik yang saya ketahui untuk menghindari perangkap berupa ketakutan akan kehilangan sesuatu.” Saya membaca bagian ini dengan “hmmmm” yang panjang setelahnya.

  1. Tim Cook (hal.557)

Saya merasa harus menulis bagian ini karena di bagian inilah penulis menceritakan siapa Tim Cook (CEO Apple saat ini). Ketika Jobs harus cuti untuk melakukan pengobatan, Cook adalah orang yang dipercayanya untuk menjalankan perusahaan dan baru bergabung dengan Apple di tahun 1998, tepat ketika Jobs sedang butuh orang untuk membantunya mengangkat Apple dari ujung kebangkrutan. Pilihan Jobs tepat, karena Cook bekerja dengan sangat efisien di bagian operasional (detil bagian ini dijelaskan di bab lain), berhasil memangkas biaya operasional secara signifikan, membenahi sistem produksi, dan membuat para manager bekerja dengan sangat efektif dengan kepala dingin. Pernah diceritakan pada suatu rapat, ia berpendapat ada ketidakberesan di pabrik produksi di Cina yang harus segera diselesaikan. Ia hanya memandang ke manajer penanggungjawab sambil berkata, “Dan kau masih di sini?” Lalu si manajer langsung pergi dari ruang rapat memesan tiket ke Cina tanpa sempat membawa persiapan apapun.

Jobs menyukai karakter Cook yang dingin, stabil, tenang dan tegas. Penilaian Cook terhadap Jobs pun tidak kalah mencengangkan. Katanya,”Orang-orang salah memahami sebagian komentarnya sebagai kemarahan dan kritik yang tidak membangun, tetapi sesungguhnya begitulah caranya menyampaikan gairah”.

Meski sangat brilian, Jobs mengakui bahwa Cook bukan orang produk. Di samping mengagumi gaya Cook yang kalem, saya belajar dari penggalan cerita di halaman ini bahwa tidak semua orang adalah orang produk. Dan, orang produk adalah benar-benar penting untuk memastikan perusahaan menjual produk yang bagus. Oleh karenanya, posisi terbaik Cook adalah bagian operasional (produksi hingga penjualan) dan spesialisasi produk dikerjakan oleh Jony Ive.

  1. Konsumen (hal.686)

Saya tidak sepenuhnya setuju, tapi rasanya benar juga kata Jobs mengenai keengganannya melakukan survey pasar untuk menciptakan produk sesuai keinginan pasar. “Orang tidak akan tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkan seperti apa bentuknya”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s