Air Sahabatku

Pertama, bilang sama diri sendiri “air sahabatku”. Ke-2, latihan terus. Dua pesan terbaik dari seorang kawan untuk meningkatkan kepercayaan diri saya agar bisa mengapung di air.

 

Dari dulu saya selalu ingin bisa berenang. Waktu duduk di bangku Sekolah Dasar, beberapa kawan didaftarkan oleh orangtuanya untuk ikut les berenang tiap seminggu sekali, sementara saya tidak. Waktu itu sepertinya saya juga nggak merasa butuh-butuh amat dan belum punya argumen yang kuat untuk memohon subsidi les renang dari ayah bunda, jadi saya santai-santai-pingin saja lihatnya. Namun meskipun tidak bisa berenang, saya selalu ikut setiap acara yang ada kegiatan berenang-nya, tidak lain dan tidak bukan demi sepotong momen sepedaan bersama menuju lokasi kolam renang (atau sungai terdekat) dan bisa main air.

Saya memadamkan keinginan untuk bisa berenang semenjak pernah nyaris tenggelam di Pantai Baron, Gunung Kidul, karena kesombongan ala anak-anak umur 8 tahun untuk melawan ombak yang saya pikir hanya kecil tapi ternyata besar. Semenjak itu, pikiran bahwa ketika seluruh tubuh yang terendam air dengan kaki tidak menginjak dasar kolam berarti “kamu akan tenggelam” menumpuk hingga dewasa. Makin dewasa, makin jarang saya mengiyakan ajakan berenang karena malu “sudah besar kok nggak bisa berenang”. Akhirnya ya sudah, saya pun legowo kalo saya memang nggak bisa berenang dan makin tentram dengan fakta-fakta pendukung bahwa di luar sana banyak orang dewasa juga nggak bisa berenang. Jadilah kalau diajak berenang, saya iseng-iseng saja belajar dan minta diajari tapi tetap saja lebih sering menelan air kaporit sampai kembung daripada sukses berenang dengan nafas yang teratur.

Lalu tiba-tiba saja sebulanan yang lalu saya berangkat ke kolam renang dan bisa berenang dari ujung ke ujung kolam dengan gaya paling dasar dan paling mudah sedunia per-renang-an : gaya katak, tanpa berhenti di tengah-tengah karena kehabisan nafas. Saya bingung. Lah, sejak kapan? Siapa saya? Dimana saya? Bagaimana mungkin? Dan pertanyaan-pertanyaan amnesia mendadak sejenisnya. Haha.

Saya lalu mengirim pesan pada kawan saya si sahabat air tadi tentang kejadian aneh ini. Dia tertawa membacanya. Tentu saja saya merasa banyak berhutang budi padanya yang membantu saya tetap ingin bisa berenang meski saya sudah cukup percaya diri menjadi orang yang nggak bisa renang (percaya diri kok karena ketidakmampuan :D). Saya lalu ingat-ingat pengalaman snorkeling pertama saya yang juga diliputi perasaan ragu bisa mengapung atau tidak. Lalu pengalaman-pengalaman berikutnya yang sudah agak lebih pede snorkelingan tanpa pakai pelampung memanfaatkan berat jenis air asin yang membantu saya mengapung, meski sempat drama kehabisan nafas trus tenggelam karena panic selama beberapa detik.

Akhir kata, terima kasih Mbak Anggi si Sahabat Air! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s